Saturday, May 30, 2015

"Jangan Pernah Meremehkan Keadaan !!!"

"Situasinya seolah serba tidak memungkinkan. Seolah tak ada lagi jalan keluar. Opsi solusi pun sangat sulit dimunculkan. Namun, hal-hal yang tak terduga datang dan tiba-tiba opsi-opsi jalan keluar pun terhampar luas di depan mata." 

Pernahkah anda mengalami situasi demikian? Sedang menghadapi deadline pekerjaan, sementara masih banyak PR yang belum terselesaikan; sudan jatuh tempo membayar cicilan atau tagihan, sementara belum ada sepeserpun uang di tangan; ataupun memiliki rencana yang sudah matang, tiba-tiba semuanya terancam gagal berantakan. 

Menghadapi situasi demikian yang paling sering muncul dan kita alami tentu saja "panik" dan "ketidaknyamanan" perasaan. Apalagi, jika kita termasuk orang yang bertanggungjawab, maka rasa bersalah jika tidak bisa menunaikan kewajiban dan tanggungjawab akan terasa begitu menghantui. 

Memang, se-panik dan se-stress apapun, kita dituntut untuk terus kreatif melakukan berbagi simulasi dalam mencari jalan keluar yang baik dan bertanggungjawab. Tentunya, sambil mengiringinya dengan keyakinan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, dan badai-pun pasti akan berlalu pada akhirnya. 

Dalam situasi tersebut, kita juga tidak dianjurkan untuk  "meremehkan" sedikitpun keadaan yang kita alami. Se-putus asa apapun kita, hendaknya kita tidak memandang sebelah mata setiap opsi yang muncul sebagai  jalan keluar. Kita  juga tidak dianjurkan untuk "meremehkan" keadaan dengan meyakini dan menghakimi seolah "tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan keadaan."

Sikap meremehkan, ditambah pola pikir "tidak meyakini" adanya jalan keluar dari situasi yang ada, hanyalah akan menambah situasi dan keadaan semakin memburuk dan menjauhkan kita  dari menemukan solusi yang terbaik. Idealnya, keyakinan kita akan terselesaikannya masalah, didukung dengan keyakinan bahwa: "Apapun (baik atau buruk) bisa terjadi, dan bisa dialami oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun". 

Karena kita memilih hal "baik" agar terjadi pada diri kita, maka opsi yang kita milki, tak lain dan tak bukan, hanyalah "meyakininya" akan hadir menghampiri kita.  #gusrowi. 




Thursday, May 28, 2015

"Putus Asa ala Joni"

"Sudah 3 tahun terakhir menjadi Joki 3 in 1 di sore hari, dan tukang parkir di pagi hari. Joni, 33 Tahun, belum menikah, yang menyesal tidak menamatkan SMA-nya, berkali-berkali mengeluh putus asa dengan hidupnya. Alasan perut yang membuatnya dia harus tetap bertahan." 

Apa yang anda lakukan jika sedang merasa sangat "putus asa"? Walau ajaran agama manapun mengajarkan agar kita tidak mudah berputus asa, nyatanya tidak mudah kita meng-handle rasa ini ketika datang mendera. 

Seringkali kita diajarkan agar melihat ke bawah dan tidak ke atas untuk menimbulkan efek "syukur", bahwa ada orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Sehingga kita patut dan layak mensyukuri keadaan kita saat ini. Bagaimana dengan orang-orang yang merasa tidak memiliki apapun untuk dijadikan alasan bersyukur? 

Selama hampir 1 jam ngobrol dengan Joni, saya berusaha untuk membantunya melihat apa yang bisa ia syukuri dari keadaannya. Saya juga mencoba menggali hal-hal yang bisa membuat dia "menyatakan" bahwa ia masih bisa bersyukur dengan keadaannya. Namun, tak sepatah kata "syukur" keluar dari mulutnya. Baginya, beban hidup dan kerasnya Jakarta sudah membuatnya tidak memiliki harapan masa depan yang lebih baik lagi. 

Ketika saya singgung, kenapa tidak "mati saja", jika memang sangat putus asa dan tidak merasa memiliki masa depan? Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Meskipun, tidak juga muncul di mulutnya, alasan "positif" yang membuatnya masih ingin bertahan hidup. 

Saya teringat kata-kata seorang Kyai pendiri Pondok Gontor di Ponorogo: "Hidup tak takut mati; Takut Mati Jangan Hidup: Takut Hidup Mati Saja". Dari sini, walaupun saya gagal membuatnya melihat sisi "positif" darinya dan hidupnya, setidaknya, Joni bukan orang yang "takut mati". 

Sesulit apapun hidupnya; seputus asa apapun ia mencari sesuap nasi tiap hari; dan se-menyesal apapun ia dengan cerita masa lalunya; ia masih bertahan hidup dan tak mau "mati" merenggutnya karena alasan "perut". Joni, walau lebih sering bilang putus asa sepanjang perjalanan, nyatanya tetap semangat bertahan hidup. 

Senyum dan tawa kami sepanjang jalan Sudirman sore itu, semoga memberikannya sedikit "hiburan" di tengah Jakarta yang semakin tidak "manusiawi" baginya. Kalau ketemu Joni lagi, saya akan mencoba sekali lagi untuk bisa membuatnya menyebut "saya masih bersyukur". Semoga Bisa. #gusrowi. 





Tuesday, May 26, 2015

Menemukan "Misteri" Diri Kita

Suatu malam, seorang tetangga bertamu ke rumah saya.  Tetangga saya ini terhitung sesepuh di komplek saya tinggal. Kedatangannya  memiliki maksud untuk meminta dan memohon saya agar mau menjadi ketua RT. Dia pun mengungkapkan beberapa alasan mengapa ia meminta saya menjadi ketua RT. 

Alih-alih mencoba menyangkal dan mendebat alasan-alasan yang disampaikan, saya memilih menyimak, sambil mengeksplorasi apa yang tetangga saya lihat dari diri saya.  Saya juga memanfaatkan momentum ini sebagai proses mengevaluasi dan menemukan "misteri" potensi diri saya yang mungkin selama ini belum terungkap.

Menjadi Ketua RT, "keren tidaknya" sebutan sebagai "Pak RT", iming-iming kekuasaan di level mendasar struktur sosial kelas komplek, benar-benar bukan menjadi fokus saya. Saya memilih menikmati apresiasi, perhatian, dan energi kepercayaan yang diberikan kepada saya, yang mendasarinya menyimpulkan saya layak menjadi ketua RT.  Disinilah, saya merasa terbantu. 

Kehadiran orang lain yang memberikan pandangan dan feedback tentang keberadaan kita memiliki banyak manfaat. Di satu sisi, ini menunjukkan masih ada orang yang "peduli" dan "perhatian" kepada kita. Di sisi lain, jika kita memperlakukan segala feedback tersebut secara tepat, akan membantu kita menemukan hal-hal yang selama ini mungin belum terungkap di dalam diri kita.  

Kita harus percaya, masih banyak potensi diri kita yang belum terungkap dan bisa dikembangkan. Sehingga, sangat tidak tepat, jika kita berpikir kita sudah "mentok" dan tidak bisa berkembang lagi. Berapapun usia kita saat ini. 

Untuk bisa terus berkembang, kita memerlukan orang lain untuk memberikan masukan, opini, saran, kritik, feedback, dan evaluasinya atas diri kita. Memang, tidak mudah merespon pandangan orang lain, apalagi jika hal tersebut tidak mengenakkan kita. Namun, meremehkan dan tidak menggubrisnya sama sekali juga bukan cara yang tepat. 

Mari kita coba melihat segala macam feedback tersebut dengan cara yang berbeda; "Orang ini mungkin sedang membantu saya melihat sisi diri saya yang selama ini tidak/kurang saya perhatikan ataupun sadari, maka saya akan mendengarkannya". 

Dalam kasus apa yang saya alami, saya akan berpikir;  "Meskipun tidak pernah terlintas sekalipun, mungkin saya memang punya bakat menjadi Pak RT, mengapa tidak mencobanya kan?". #gusrowi.


Saturday, May 23, 2015

Membantu Orang dengan Meragukannya, Caranya?

Semua dari kita pasti pernah mengalami situasi dimana ada orang-orang yang meragukan "kemampuan" kita. Sebaliknya, kita juga pernah mengalami berada di dalam posisi sebagai orang yang "meragukan" kemampuan orang lain.

Bagaimana perilaku dan sikap yang biasa anda tampilkan ketika "diragukan" oleh orang? Apakah anda akan merespon secara terbuka, dan berusaha menunjukkan bahwa keraguan tersebut tidak benar adanya? Ataukah anda lebih memilih "diam dan sabar", tidak menggubrisnya, dan memilih terus berusaha yang terbaik? 

Bagi sebagian orang, perasaan diragukan bisa berdampak sangat negatif, menyulut emosi, memunculkan sikap-sikap "defensif", dan memancing sikap ingin secepat mungkin menunjukkan bahwa segala keraguan yang ada tidaklah tepat. Tentunya, sikap-sikap demikian bisa tersirat dari cara-cara orang tersebut berkomunikasi, berinteraksi dan menyampaikan tuntutan dan kepentingannya kepada kita. 

Saya kira sangat manusiawi jika kita merasakan ketidaknyamanan yang luar biasa ketika ada orang yang "meragukan" kemampuan kita. Ini sangat dimaklumi, karena ketika kita diragukan, kebutuhan dasar "harga diri" kita, memang sedang mengalami gangguan. Kebutuhan untuk dihargai, dihormati, diapresiasi atas (sebaik dan seburuk) apapun kemampuan yang kita miliki. 

Jadi, jika memang "diragukan" itu lebih banyak mendatangkan "ketidaknyamanan", maka kita bisa berpikir berulang-ulang jika kita ingin "meragukan" orang lain. Memang, "meragukan" orang adalah sah-sah saja, dan hak kita semua. 

Namun, bagaimana kita mengolah keraguan kita, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap orang tersebut, sangat jauh lebih penting. Bisa jadi, kita justru akan membantu orang tersebut untuk bisa maju dan mencapi level tertinggi kemampuannya. 

Disinilah kita selalu diingatkan oleh filosofi jawa: "ojo dumeh" dan "ojo dupeh". Selamat berakhir pekan semua!.#gusrowi.


Friday, May 22, 2015

Bermanfaat buat orang lain, Yakin?

Apa yang membuat hidup anda bermanfaat? Pertanyaan yang ternyata tidak mudah untuk dijawab oleh banyak orang. Berbagai kekhawatiran karena merasa belum berbuat banyak buat orang lain, atau tidak adanya keyakinan diri telah melakukan sesuatu untuk orang lain seringkali muncul menjadi alasan.

Bagi saya, pertanyaan tersebut memang sangat dalam artinya. Dan siapapun yang menanyakan hal tersebut pada dirinya sendiri, akan membantunya untuk merefleksikan  apa yang dilakukan dan di lalui dalam kehidupan sehari hari. Apakah dalam menjalani rutinitas selalu ada unsur kemanfaatan buat orang lain? Bahwa, manusia yang baik itu yang bermanfaat buat orang lain itu iya, tapi, bagaimana menghadirkan manfaat buat orang lain itu tantangan yang tidak mudah.

Adalah sangat subyektif untuk mengatakan bahwa kita merasa telah bermanfaat buat orang lain. Apalagi jika tidak ada dampak apapun yang bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Untuk bisa bermanfaat buat orang, yang mungkin paling kita butuhkan saat ini adalah bagaimana kita secara otentik memahami apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan kita. Pada saat yang sama, kita juga memerlukan kepekaan kuat dalam membaca dan memahami kebutuhan dan kepentingan orang-orang di sekitar kita. 

Pada tahap awal, besar kecilnya manfaat itu sendiri tidaklah menjadi fokus, yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa benar-benar melakukan sesuatu yang  secara tepat sasaran dan dampaknya benar-benar ada. Untuk itu semua, memulainya adalah tantangan terbesar kita. Dan kita tidak akan pernah tahu ada atau tidaknya manfaat keberadaan kita sebelum kita benar-benar memulainya. #gusrowi


Wednesday, May 20, 2015

Komunikasi....Ringan Nan Sulit

Seringkali, setiap muncul permasalahan diantara dua orang atau lebih, "komunikasi" tidak saja sebagai kunci untuk menemukan akar permasalahan, tetapi ia juga bisa menjadi biang masalah dan sekaligus solusinya. 

Komunikasi, bagi sebagian orang bukan perkara sederhana. Meskipun merasa tahu kunci masalah dan solusinya adalah komunikasi, banyak yang kemudian dibingungkan dengan  detail yang harus dilewati dan dijalani ketika harus mempraktekkan keterampilan berkomunikasi. Jangankan komunikasi langsung jarak jauh menggunakan telpon ataupun tulisan,  sudah saling bertatap muka saja, masih banyak kesalahpahaman yang terjadi.

Ketika dua orang yang berkonflik sudah mau mulai berkomunikasi, sejatinya merupakan langkah yang sangat penting. Hal ini menunjukkan keduanya mulai membuka diri untuk bekerjasama dalam menyelesaikan masalah. Sebaliknya, jika kran komunikasi ditutup, jangan harap masalah bisa selesai dengan sendirinya. 

Setelah komunikasi dimulai, tantangan berikutnya adalah, menjalankan pola komunikasi yang konstruktif dan dialogis. Sangat tidak mudah tentunya. Karena yang sering kita temukan adalah gaya berkomunikasi yang cenderung intimidatif; dan sangat mementingkan capaian kepentingan pribadi (ego-sentris). Saling memahami persepsi masing-masing pihak sulit menjadi fokus, dan lebih sibuk meyakinkan yang lain untuk mencari pembenaran pandangan sendiri.

Komunikasi yang baik idealnya mengedepankan pentingnya "mendengar". Tidak sekedar mendengarkan secara aktif, tetapi juga mendengarkan untuk memahami apa yang menjadi kepentingan masing-masing. Tentu saja, model-model mendengarkan untuk sekedar mencari titik lemah yang lain, dan menyerang balik bukanlah jenis komunikasi yang bisa mendukung tercapainya penyelesaian masalah. 

Itulah komunikasi. Sesuatu yang mutlak kita butuhkan tiap saat, yang memerlukan latihan dan pembelajaran yang tidak ada kata akhirnya. Sesuatu yang enteng diucapkan, namun berat dilakukan.#gusrowi


Monday, May 18, 2015

Ambisi yang "Ambisius"

Memiliki ambisi tentulah natural. Ambisi untuk berprestasi; ambisi untuk menjalin afiliasi dengan sebanyak mungkin orang; ataupun ambisi untuk memimpin dan berkuasa. Namun, ketika ambisi bertransformasi menjadi "ambisius", konotasi yang sering kita dengar adalah negatif. 

Apa yang salah dari sikap ataupun perilaku "ambisius"? Apakah itu tidak menunjukkan keseriusan, komitmen dan betapa pentingnya sesuatu yang sedang diperjuangkan? 

Atau jangan-jangan munculnya pandangan negatif terhadap sikap "ambisius" seseorang lebih disebabkan ke-tidak-biasaan kita melihat upaya-upaya mengejar sesuatu dengan cara yang terang-terangan dan terbuka. Karena selama ini, mungkin kita sangat dibiasakan dengan pola-pola "senyap" ketika ingin meng-gol-kan keinginan atau ambisi kita. Berapa banyak orang-orang di sekitar kita yang "terbuka" dengan ambisi hidup mereka? Saya yakin tidak banyak. 

Bagi saya, memiliki tujuan atau target yang "ambisius" sangatlah diperlukan. Setidaknya, hal tersebut akan memotivasi dan memberikan dorongan energi di dalam diri kita. Persoalannya, bagaimana cara yang seharusnya kita tempuh untuk mengekspresikan keinginan "ambisius" kita agar tidak dimaknai negatif? 

Sikap ambisius harus menggunakan pendekatan yang elegan, dan "fair". Jika "ambisius" disisipi dengan arogansi dan menghalalkan segala cara, disitulah banyak orang akan berpikiran negatif tentang ambisi kita, dan cenderung tidak akan mendukung kita.

Semoga kita tidak pernah kehabisan motivasi untuk berambisi. Ambisi yang "ambisius", dilakukan secara alami, dari hati dan manusiawi akan menjadi faktor penting dalam mempengaruhi semesta untuk mendukungnya terwujud. #gusrowi.